KULIAH MIMBAR

Pada umumnya perkuliahan di Perguruan Tinggi masih dilaksanakan secara klasikal, dengan mimbar atau metode ceramah. Kuliah mimbar atau metode ceramah murni adalah bentuk perkuliahan yang dilakukan untuk sejumlah mahasiswa dalam satu kelas, di mana dosen mengalihkan atau menjelaskan informasi secara lisan, dan mahasiswa mendengarkan sambil membuat catatan.

Dalam praktek, jarang suatu metoded dilaksanakan secara murni, sering suatu metoded digabungkan dengan metode lain. Suatu perkuliahan masih tetap disebut menggunakan metode kuliah mimbar, apabila kegiatan masih didominasi oleh penjelasan dosen. Dalam hal tertentu kuliah mimbar memang efektif dan efisien dan memiliki kelebihan, tetapi harus diingat bahwa cara tersebut juga memiliki kelemahan dan keterbatasan.

Tulisan ini akan membahas tentang :

  1. Kelebihan dan kekurangan kuliah mimbar
  2. Variasi kuliah mimbar
  3. Keterampilan-keterampilan pendukung

I.  KELEBIHAN DAN KEKURANGAN KULIAH MIMBAR

Berdasarkan penelitiannya, Bligh (1972) menyatakan bahwa perkuliahan yang dilaksanakan secara missal (klasikal)  sangat efektif untuk menyampaikan informasi atau fakta-fakta. Dengan sekali penjelasan, informasi dapat sampai pada sejumlah besar pendengar, dalam waktu singkat, banyak informasi dapat disampaikan.

Akan tetapi, perkuliahan tidak hanya berupa penyampaian informasi perkuliahan harus dapat merangsang mahasiswa untuk berfikir kritis, merangsang proses berfikir, mengubah dan atau mengembangkan pandangan. Membangkitkan dan menjaga motivasi. Dalam hal ini, kuliah mimbar kurang memberi peluang untuk berkembangnya hal-hal tersebut secara optimal karena dosen aktif mendominasi kegiatan, dan mahasiswa pasif. Pengajaran lebih merupakan pemindahan pengetahuan (transfer of knowledge) dari dosen kepada mahasiswa secara informative – verbalistik.

Seperti sudah dijelaskan diatas, dalam kuliah mimbar mahasiswa mendengarkan dan mencatat. Mendengarkan dan mencatat bagi sebagian orang mudah tetapi bagi sebagian yang lain mungkin sukar, untuk memperkecil kesulitan, ada dosen yang menggunakan waktu khusus untuk mendiktekan informasi yang harus dicatat mahasiswa.

Kuliah mimbar memiliki masalah yang berkaitan dengan kemampuan siswa untuk mengingat. Menurut hasil penelitiannya, McLeish (1968) menyatakan bahwa setelah mengikuti kuliah mimbar mahasiswa hanya mampu mengingat 40% dari informasi penting yang diperolehnya. Hal tersebut tentu kurang menguntungkan. Kecuali itu kuliah mimbar juga mempunyai masalah berkaitan dengan daya tahan mahasiswa untuk memusatkan perhatian. Dalam kuliah mimbar perhatian cepat menurun. Apabila dedngan usaha tertentu perhatian berhasil ditumbuhkan, maka perhatian tidak akan naik setinggi semula, dan akan turun lebih cepat lagi.

Sering dalam perkuliahan mimbar terjadi komunikasi satu arah. Yang aktif dosen, sedangkan mahasisawa pada umumnya pasif. Perhatian mahasiswa lambat laun berkurang. Tindakan-tindakan yang dapat diambil berkaitan deengan menurunnya perhatian adalah sebagai berikut:

  1. Dicegah uraian atau penjelasan yang tidak terstruktur, misalnya dengan jalan membagi kuliah dalam beberapa bagian yang strukturnya jelas : pendahuluan, bagian pokok, dan penutup. Dengan demikian mahasiswa dapat terlibat secara mental mengikuti pola berfikir dosen.
  2. Mengusahakan adanya selingan atau variasi, misalnya memberi informasi secara visual, melakukan deemonstrasi hasil penelitian menunjukan bahwa apabila suatu uraian telah berlangsung selama 20 menit, kemudian diberi selingan perhatian mahasiswa akan naik cukup besar.
  3. Menurunnya perhatian mungkin karena kejenuhan dan kelelahan. Mahasiswa perlu diberi istirahat.

Pelaksanaan kuliah mimbar mungkin sudah menjadi kebiasaan dan rutinitas, sehingga tanpa dipikirkan: apakah sesuai dengan tujuan yang akan dicapai atau tidakkah lebih sesuai menggunakan metode yang lain ? kuliah mimbar dipilih mungkin karena alas an-alasan ini sering membuat dosen tidak memiliki keleluasaan memilih metoded perkuliahan yang lain. Dengan kata lain dosen terpaksa memilih kuliah mimbar. Kuliah mimbar mungkin menguntungkan dan memudahkan dosen, tetapi tidak menguntungkan bagi semua mahasiswa, apabila dikaitkan dengan tujuan yang harus dicapai dan proses belajar yang diharapkan.

Kriteria terpenting untuk memilih bentuk pengajaran adalah fungsionalitasnya, artinya bentuk pengajaran yang dipilih harus mampu memenuhi fungsi-fungsi pengajaran tertentu, atau dengan kata lain yang dapat menggairahkan proses belajar tertentu, criteria lain, meskipun bukan yang terpenting adalah biaya, sumber daya manusia yang tersedia, ketersediaan ruang, dan jumlah mahasiswa. Perlu disadari bahwa tidak ada satu pun bentuk pembelajaran yang bersifat optimal untuk memenuhi semua fungsi pengajaran. Oleh karena itu  sangat berguna mengombinasikan bentuk pembelajaran yang satu dengan bentuk lainnya.

Perlu disadari bahwa kuliah mimbar sebagai satu-satunya sumber informasi mempunyai keterbatasan dan bahkan kurang berdaya guna dibandingkan informasi tertulis, sebenarnya kuliah mimbar dapat digunakan untuk memotivasi mahasiswa agar bergairah belajar secara mandiri. Memberi kemungkinan memperkenalkan perkembangan-perkembangan terakhir yang belum termuat dalam bahan tertulis, mengutarakan pandangan dosen sendiri, memberikan gambaran mengenai keterangan latar belakang yang lebih banyak dan lebih rinci dari yang ada dalam bahan tertulis, mengitkan teori dan praktek, dan memberi penjelasan tentang kaitan-kaitan beberapa informasi tertentu.

Agar kuliah mimbar dapat mendorong dan mengarahkan mahasiswa mempelajari bahan tertulis secara mandiri, informasi yang disampaikan harus disusun dalam bentuk yang memiliki struktur yang jelas. Dosen memberi pengantar pada pokok yang akan dibahas, menguraikan garis-garis besarnya. Menunjukan secara garis besar keterkaitan antara informasi yang satu dengan yang lainnya, menghubungkan informasi-informasi yang berasal dari berbagai sumber, memberi contoh penyelesaian suatu masalah.

“ Jadi yang diuraikan dalam kuliah mimbar adalah gaaris-garis besar dan permasalahan-permasalahan dalam bahan kuliah. Oleh karena itu, kuliah mimbar harus dilengkapi dengan bahan tertulis”.

II. VARIASI KULIAH MIMBAR 

Dengan menyebutkan sejumlah kelemahan atau kekurangan diatas tidak dimaksudkan untuk menghilangkan kuliah mimbar, tetapi justru untuk mencari cara mengoptimalkan efektivitasnya, apabila karena alas an-alasan tertentu kuliah mimbar tetap digunakan. Sebagai langkah awal dari usaha optimalisasi ini perlu dilakukan pergeseran paradigma, yaitu dari kegiatan perkuliahan sebagai proses pengajaran menjadi proses pembelajaran.

Pengajaran  dibedakan dari pembelajaran dari sudut siapa yang aktif, siapa pelaku utama dan siapa yang mendominasi kegiatan. Pada pengajaran tekanannya pada dosen mengajar kegiatan pengajaran didominasi oleh dosen dalam menyampaikan informasi atau menjelaskan sesuatu, sedangkan dalam pembelajaran tekanannya pada mahasiswa belajar, yang berupa keterlibatan secara aktif baik secara fisik atau pun mental dalam proses. Kegiatan pembelajaran didominasi oleh mahasiswadalam melakukan serangkaian kegiatan belajar. Mahasiswa merupakan pelaku utama, dosen berfungsi sebagai pencipta situasi, penyedia fasilitas, pencipta peluang, perancang kegiatan, sedemikian mahasiswa aktif melakukan kegiatan belajar. Sering dikatakan bahwa dosen berfungsi sebagai fasilitator.

Ada tiga hal yang harus diperhatikan untuk mengoptimalkan efektivitas kuliah mimbar sebagai suatu bentuk perkuliahan yang berisi proses pembelajaran.

  • Persiapan
  • Pelaksanaan
  • Umpan balik

PERSIAPAN

Persiapan merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Deengan persiapan yang baik pun, kegagalan masih dapat terjadi apalagi tanpa persiapan –persiapan yang baik merupakan awal dari kelancaran dan keberhasilan proses pembelajaran. Dua hal pokok yang mutlak  harus dipersiapkan adalah matri perkuliahan dan kegiatan perkuliahan.

Pesiapan materi berkaitan dengan (1) penguasaan materi, (2) urutan penyampaian, (3) pengetahuan dan kemampuan prasyarat. Penguasaan materi merupakan salah satu factor penentu kelancaran dan keberhasilan kuliah mimbar. Kecuali itu dengan penguasaan materi yang baik akan menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan diri sehingga dosen tidak akan merasa canggung berdiri dan berbicara didedpan mahasiswa. Urutan penyampaina materi mengacu pada urutan logis materi, yaitu hubungan antara materi prasyarat dan yang diprasyarati. Kesalahan urutan dapat menyebabkan proses tidak lancer dan mahasiswa kesulitan untuk mengikutinya kecuali itu, perlu dipilah mana materi pokok (materi utama, penting), mana yang kurang penting, sehingga dapat menentukan distribusi waktu dengan tepat.

Kegiatan perkuliahan dapat dibagi atas tiga tahap; (1) pendahuluan, (2) pembahasana utama dan (3) penutup. Setiap bagian perlu dipersiapkan sehingga jelas apa saja yang akan dilakukan, bagaimana langkah-langkahnya, baik dalam pendahuluan, pembahasan utama maupun penutup pasti akan lebih baik dan lebih lancar apabila segalanya telah dipersiapkan dari pada masih mencari cari apa yang akan dilakukan. Tentu harus disadari pula bahwa persiapan bukan barang mati yang tidak boleh diubah. Modifikasi dan variasi sesuai situasi nyata yang dihadapinya juga diperlukan.

Kegiatan PENDAHULUAN adalah kegiatan mempersiapkan suasana, situasi, mental mahasiswa agar siap memasuki proses pembelajaran. Tahap ini misalnya diisi deengan menginformasikan tujuan, menjelaskan pentingnya materi yang dipelajari, mengajukan masalah, serta menunjukan untuk apa, kapan, dan dimana bahan yang dipelajari akan digunakan. Tahap pendahuluan juga dapat diisi upaya untuk membangkitkan motovasi, menegcek dan memenuhi prasyarat, mengaitkan materi pokok dedengan materi pada kuliah sebelumnya dan menginformasikan kerangka berfikir atau pola kegiatan yang akan dilaksanakan.

PEMBAHASAN UTAMA, adalah penyampaian atau penjelasan materi utnuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk tahap ini perlu dipersiapkan pertanyaan-pertanyaa pokok yang akan diajukan kepada mahasiswa, dan memperkirakan pertanyaan yang mungkin mungkin muncul (berdasarkan pengalaman sebelumnya) dari mahasiswa sehingga dapat disiapkan jawabannya. Perlu juga dilakukan pemilihan dan persiapan media yang akan dipakai dalam melaksanakan pembelajaran. Apabila digunakan OHP, bagian penting mana yang harus ditransparansikan. Apabila diperlukan gambar-gambar atau bagan-bagan, perlukah gambar-gambar/ bagan-bagan dibuat /disiapkan sebelumnya atau langsung dibuat saat kuliah berlangsung.

PENUTUP adalah tahap mengakhiri kegiatan perkuliahan. Penutup sebaiknya jangan dilakukan untuk sekedar basa-basi, tetapi perlu secara bermakna, secara bermakna misalnya dengan membuat  rangkuman dari yang sudah dipelajari, tujuan auat kemampuan apa yang sudah dicapai, kekurangan atau kesalahan apa yang perlu diperbaiki, mengaitkan materi yang sudah dipelajari deengan yang akan dipelajari untuk menumbuhkan motivasi.

PELAKSANAAN

Pelaksanaan merupakan realisasi dari apa yang direncanakan, apa yang telah direncanakan tidak harus dilaksanakan secara kaku. Perencanaan harus dipandang sebagai pedoman. Perencanaan yang baik tentu mmpertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi sehingga apabila apa yang dilakukan jauh berbeda dari apa yang telah direncanakan, berarti perencanaan kurang baik. Hal ini kemungkinan disebabkan karena dosen kurang memperediksi dan kurang mengantisipasi perubahan-perubahan yang mungkin akan terjadi ketika proses perkuliahan berlangsung.

Ada beberapa factor yang menunjang kelancaran dan keberhasilan perkuliahan dengan kuliah mimbar, yaitu sebagai berikut :

a.    Kerangka berfikir yang jelas

Dalam menjelaskan, dosen hendaknya menggunakan kerangka berfikir yang jelas dan sistematis, sehingga mudah diikuti. Kerangka berfikir jelas dapat dianalogikan seperti seorang yang naik atau turun tangga, ia naik atau turun anak tangga demi anak tangga; tidak meloncat-loncat, naik turun (bolak-balik) sehingga susah diikuti.

b.   Semangat dan motivasi pengajar

Ketika memberi kuliah tunjukan bahwa pengajar memiliki semangat dan motivasi tinggi mengenai materi dan kegiatan perkuliahan. Bagaimana dapat menyemangati dan memotivasi mahasiswa bila pengajar sendiri tidak bersemangat dan tidak bermotivasi.

c.  Berbicara dengan variasi kecepatan dan intonasi

Untuk mengurangi kebosanan dan kejenuhan, variasi kecepatan dan intonasi suara perlu diusahakan gaya bicara yang monoton (dengan kecepatan dan tingkat kekerasan yang sama) mempercepat kebosanan dan penurunan perhatian.

d.   Kejelian membaca situasi

Apabila keadaan kelas tidak seperti yang diinginkan misalnya rebut, kacau, atau mahasiswa tak acuh, pasti itu ada penyebabnya mengetahui apa sebabnya dan mengambil keputusan tepat untuk tindakan selanjutnya akan dapat mengubah situasi tersebut. Mungkin pula penyebabnya dari dosen sendiri, misanya cara bicara yang kurang bersemangat, membuat kesalahan konseptual, atau penjelasan yang kurang sistematis sehingga sukar diikuti. Kualitas penjelasan dosen dapat dibaca dari roman muka para mahasiswa yang menunjukan kepuasan, keheranan, keraguan, kekaguman, ketidak-percayaan, dan lain-lain.

e.   Kemampuan menjelaskan

Penjelasan yang sama sekali tidal jelas, akan mematahkan semangat mahasiswa untuk mengikuti kuliah, sebaliknya penjelasan yang terlalu jelas tidak memberikan tantangan untuk berusaha lebih lanjut secara mandiri.

UMPAN BALIK

Umpan balik dari suatu kegiatan menjelaskan adalah informasi tentang segala sesuatu berkaitan penjelasan tersebut. Umpan balik tersebut dapat berkaitan dengan proses dan hasil. Umpan balik proses berguna bagi dosen umpan balik hasil berguna untuk memperbaiki cara belajar, sedangkan bagi dosen umpan balik berguna untuk memperbaiki cara memberikan kuliah.

Umpan balik dapat dibedakan atas umpan balik langsung dan umpan balik tidak langsung, yang dimaksud umpan balik langsung adalah umpan balik yang diperoleh pada saat itu juga atau dalam perkuliahan saat itu sedangkan umpan balik tidak langsung diperoleh beberapa waktu setelah kegiatan perkuliahan berlangsung (dapat pada hari berikutnya atau perkuliahan berikutnya).

Umpan balik langsung dapat diperoleh melalui pengamatan atau kesan yang diperoleh selama perkuliahan berlangsung, pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab secara lisan atau tertulis. Umpan balik tidak langsung diperoleh melalui tugas-tugas yang harus dikerjakan setelah tatap muka, dapat berupa tugas membaca atau mempelajari apa yang sudah diajarkan atau dikuliahkan atau tugas mengerjakan soal-soal.

Umpan balik untuk mahasiswa dapat diberikan oleh dosen secara lisan berupa komentar-komentar terhapad pekerjaan atau jawaban mahasiswa ; dapat diberikan secara tertulis pada kertas pekerjaan mahasiswa yang diperiksa dan dikembalikan komentar-komentar itu harus yang dapat memotivasi mahasiswa, bukan sesuatu yang menyakitkan dan mematahkan semangat. Umpan balik harus diberikan sedekat mungkin dengan waktu tatap muka. Umpan balik yang diberikan hanya pada saat ujian sudah amat terlambat, karena sudah amat kecil peluang untuk menindaklanjuti.

Umpan balik proses memberi petunjuk kepada dosen apakah proses telah berjalan dedngan baik, apakah dosen memberi penjelasan dengan baik, apakah penjelasan dapat diikuti oleh mahasiswa, sejauh mana mahasiswa menangkap dan memahami apa yang sudah dijelaskan atau apa yang sudah dipelajari, apakah sesuatu bahan perlu dijelaskan ulang, bagian mana yang harus dipelajari lagi kesalahan-kesalahan apa yang tepat dapat ditetapkan tindak lanjut yang tepat.

CONTOH VARIASI KULIAH MIMBAR

Agar efektifitas kuliah mimbar bertambah, perlu dilakukan variasi sedeemikian hinggaperkuliahan menjadi suatu proses pembelajaran yang mengaktifkan mahasiswa. Dibawah ini dikemukakan dua contoh variasi kuliah mimbar yang memenuhi keinginan tersebut, yang disebut siklus tiga langkah dan siklus empat langkah.

Siklus Tiga Langkah :

Kegiatan prkuliahan disusun  menurut tiga langkah sebagai berikut :

Langkah 1: Dosen memberikan informasi mengenai struktur materi pokok

Langkah 2: Orientasi mengenai materi pokok, yang melibatkan mahasiswa secara aktif. Kegiatan mahasiswa antara lain berupa ikut membaca, mencari, membandingkan dan menjawab pertanyaan. Untuk itu dosen perlu menyediakan bahan tertulis berupa Readeer.

Langkah 3: Latihan berupa tugas lengkap atau tugas kecil (bergantung tujuan yang  ingin dicapai) yang dapat dikerjakan secara individual atau kelompok. Dosen memberikan umpan balik misalnya melalui pembahasan pekerjaan salah satu mahasiswa.

Siklus Empat Langkah :

Kegiatan perkuliahan disusun menurut empat langklah sebagai berikut :

Langkah 1: Dosen memberi informasi mengenai struktur materi pokok

Langkah 2: Mahasiswa dibagai menjadi kelompok-kelompok kecil berisi 3 atau 4  orang, untuk menyelesaikan tugas-tugas yang disiapkan dosen dalam Reader

Langkah 3: Hasil kerja kelompok didiskusikan secara pleno, deengan dosen sebagai  pemandu

Langkah 4: Latihan, yang dikerjakan mahasiswa secara individual. Dosen memberikan   umpan balik.

III.  KETERAMPILAN-KETERAMPILAN PENDUKUNG

Pola dan kuliah mimbar ditentukan oleh : (1) gaya pribadi yang khas dari masing-masing pengajar, (2) sifat materi pembelaaran, dan (3) keterampilan mengajar yang digunakan. Agay pribadi seorang dosen dapat berbeda dari yang lain, yang merupakan sifat bawaan.  Ada orang yang gaya bicaranya keras berapi-api, bersemangat (energik), ada yang lemah lemnut, kurang bersemangat, ada yang dapat berbicara dengan variasi dan kecepatan dan intonasi, ada yang gaya bicaranya monoton, ada yang bicara dengan dramatisasi, ada yang tidak, ada yang dapat melucu, ada yang tidak, dan sebagainya. Gaya pribadi dapat diusahakan untuk diubah dengan latihan, tetapi mungkin sukar.

Sifat materi juga dapat menetukan pola pembelajaran. Materi yang bersifat informasi dan fakta-fakta, sukar dibawakan dengan dramatisasi; sedangkan yang berkaitan dengan proses, memungkinkan disampaikan dengan lelucon, gurauan, darmatisasi, atau demonstrasi.

Keterampilan mengajar merupakan sesuatu yang dapat dipelajari dan dilatih oleh seorang dosen.  Keterampilan-keterapilan seperti keterampilan membuka pelajaran, keterampilan bertanya,keterampilan memberi penguatan, keterampilan memotivasi, keterampilan menjelaskan; adalah keterampilan yang dapat dipelajari dan dipraktekan.

Untuk mengoptimalkan efektivitas kuliah mimbar, diperlukan berbagai kuliah pendukung. Keterampilan-keterampilan tersebut dapat dibedakan atas keterampilan pengorganisasian perkuliahan, dan keterampilan penyajian perkuliahan.

Keterampilan pengorganisasian mengacu pada penyusunan bahan perkuliahan, yang meliputi :

  1. Keterampilan membuat struktur perkuliahan,
  2. Keterampilan mengisi bagian pendahuluan,
  3. Keterampilan melaksanakan kegiatan pembahasan utama,
  4. Keterampilan menyusun bagian inti materi perkuliahan,
  5. Keterampilan menggunakan media perkuliahan,
  6. Keterampilan mengisi bagian penutup.

Keterampilan penyajian perkulihan meliputi empat keterampilan, yaitu :

  1. Keterampilan bersikap dalam perkuliahan
  2. Keterampilan mengatur gaya bicara,
  3. Keterampilan memperoleh umpan balik
  4. Keterampilan membuat variasi penyajian perkuliahan.

Dengan menyebutkan kesepuluh macam keterampilan diatas, tidak berarti haya itu saja.  Berdasarkan kreativitas dan kejeliannya, dosen dapat menemukan berbagai keterampilan lain yang mungkin sangat mendukung efektivitas dan efisiensi kuliah mimbar sebagai suatu bentuk perkulihan.

1.  KETERPILAN MEMBUAT STRUKTUR PERKULIHAN

Seperti sudah dijelaskan, kegiatan perkulihan terdiri dari tiga bagian, yaitu pendahuluan, kegiatan pembahasan utama, dan penuutup.  Struktur yangn jelas mengenai apa dan bagaimana masing-masingbagian akan diisi dan dilaksankan akan membantu kelancaran dan penyajian perkuliahan.  Distribusi waktu untuk masing-masing bagian, yaitu berapa banyak waktu yang digunakan masing-masing pendahuluan, kegiatan pembahasan utama, dan penutup, akan meningkatkan efesiens waktu. Kemungkinan terjadinya pemborosan waktu, seperti misalnya banyak waktu untuk kegiatan yang kurangperlu sehingga kegiatan pokok tidak memperoleh waku yang cukup, dapat dihindari,. Penetaan mana bagian penting, mana bagian penunjang pada kegiatan pembahasan utama, juga penting. Dengan demikian, pusat perhatian dapat diberikan terutama pada bagian-bagian pokok.

Bagian pendahuluan ini dapat diisi antara lain dengan :

  1. Menunjukan pentingnya materi yang dipelajari,. Menunjukan pentingnya materi tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa apa yang dipelajari itu penting, tetapi harus menginformasikan kapan, dimana, untuk apa materi itu akan digunakan, baik dalam kehidupan maupun untuk belajar selanjutnya.Tunjukan pula apa keuntungannya apabila materi dikuasai, dan kesulitannya apabila materi tidak dikuasai. Terangkan kedudukan materi yang akan dipelajari terhadap seluruh materi sebagai kebulatan.
  2. Menunjukan secara garis bear bangunan pengetahuan yang akan dipelajari, pola berfikir yang akan ditempuh, dan masalah-masalah yang akan dipecahkan.baik kalau bangunan pook tersebut disajikan secara terti]ulis dalam bentuk hand-out.
  3. Menjaga kesinambungan materi dengan mengulang pokok-pokok yang sudah dipelajari, dan mengkaittkan dengan yang kan dipelajari.
  4. Mengingatkan pengetahuan dan kemampuan yang sungguh-sungguh diperlukan untuk dapat mengikuti prosespembeljaran dan memahami materi pokok.  Tidak terpenuhinya pengetahuan dan kemampuan prasyarat akan menimbulkan kesulitan mahasiswa. Oleh karena itu, dosen perlu menggunakan sedikit waktu untuk memenuho pengetahuan atau kemampuan awal yang dibutuhkan itu.
  5. Menjelaskan secara singkat pokok-pokok yang seharusnya sudah dipelajari, tetapi belum sempat karena pada pertemuan yang lalu belum sempat dipelajari.
  6. Memberi gambaran tentang hasil yang diharapkan (menginformasikan tujuan pembelajaran).

3.   KETERAMPILAN MELAKSANAKAN KEGIATAN PEMBAHASAN UTAMA

Kegiatan pembahasan utama dalam suatu perkuliahan adalah kegiatan menyangkut materi pokok perkuliahan dala rangka mencapai tujuan yeng telah ditetapkan. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain :

  1. Bila luas dan kompleks, materi perlu dibagi menjadi beberapa pokok masalah, dan ditunjukan hubungan antara pokok masalah yang satu dengan pokok masalah yang lain, untuk menjaga kontinuitas berfikir.
  2. Pada setiap akhir pokok masalah diadakan pengecekan untuk mengetahui sejauh mana mahasiswa telah menguasainya.
  3. Dosen perlu membedakan secara jelas mana bagian pokok dan mana bagian pengayaan atau pelengkap, dan menginformasikannya kepada mahasiswa. Dengan demikian, diharapkan mahasiswa dapat mengatur  perhatiannya. Bagian mana yang harus mendapat perhatian lebih dibandingkan bagian yang lain.
  4. Pertanyaan-pertanyaan mahasiswa perlu ditanggapi dengan cepat. Dosen perlu menentukan pertanyaan mana yang harus mendapat tanggapan segera, mana yang perlu ditanggapi dengan serius, mana yang ditunda, dan mana yang tidak perlu ditanggappi secara serius tanpa menimbulkan kesan bahwa pertanyaanya tidak diperhatikan. Hal ini berkaitan dengan sifat pertanyaannya, apakah pertanyaan menyangkut materi pokok, masih dalam lingkup materi yang dipelajari atau tidak, pertanyaan bermakna atau tidak.

Pertanyaan mahasiswa yang bermakna, yang masihdalam lingkup yang dipelajari, dapat menjadi umpan bali yang baik bagi dosen tentang kualitas proses pembelajaran. Dosen hendaknya slalu berusaha untuk mendayagunakan pertanyaan mahasiswa dengan beberapa cara, antara lain :

  1. Mengulangi pertanyaan agar pertanyaan dimengerti oleh seluruh mahasiswa di kelas. Dengan cara ini, mahasiswa yang mengajukan pertanyaan merasa bahwa pertanyaanya diterima dan dihargai, serta dapat mengindari pertanyaan sama dari mahasiswa lain.
  2. Menghargai secara positif setiap pertanyaan yang diajukan misalnya, dengan mengatakan : pertanyaan bagus, kalau pertanyaan sangat penting, pertanyaan yang menarik, dan sebagainya, kalau pertanyaan yang muncul memang baik. Terhadap pertanyaan yang  menurut pandangan dosen tidak bermutu pun, sebaiknya tidak ditanggapi secara negativf, agar tidak merusak motivasi mahasiswa.
  3. Jawaban hendaknya ditujukan dandidengar oleh semua mahasiswa dikelas. Agar semua mahasiswa dapat mengambil manfaat dari pertanyaan dan jawabannya, perlu dihindari kesan dosen mengadakan percakapan pribadi dengan mahasiswa penanya.
  4. Untuk menjaga kontinuitas kerangka berfikirsetiap kali kembali ke pembahasan pokok, informasikan sampai dimana pembahasan sudah dilakukan.

4.   KETERAMPILAN MENYUSUN BAGIAN INTI MATERI PERKULIAHAN

Untuk memperlancar perkuliahan dan mempermudahmahasiswa mengikuti dan memahaminya, bagian inti materi perkuliahan perlu disusun secara sistematis. Pengajar dapat melakukan langkah-langkah antara lain :

  1. Merumuskan pokok masalah secara singkat adan memutuskan kata kuncinya. Yang dimaksud pokok masalah adalah hal pokok yang akan dibahas dalam perkuliahan, merupakan inti dari materi perkuliahan. Sebagai contoh, rumusan pokok masalah dalam kuliah Ilmu Ekonomi seperti “tiga macam sebab penting terjadinya kemunduran ekonomi, “kata kuncinya adalah “sebab-sebab kemunduran”. Dalam kuliah Elektronika Digital, misalnya pokok masalah  “ empat langkah merangkai rancangan logika “, mempunyai kata kunci “ merancang rangkaian logika”. Dengan perumusan secara singkat masalah dengan kata kuncinya, mahasiswa melihat secara jelas struktur kuliah yang akan diikutinya. Dar contoh diatas jelas bahwa yang akan dibahas adalah sebab-sebab kemunduran ekonomi, dan pembahasannyameliputi tiga sebab.sedangkan dari contoh kedua jelas bahwa yang akan dibahas adalah perancangan rangkaian logika yang meliputi empat langkah.
  2. Bila masalah pokok telah ditangkap oleh mahasiswa, dosen selanjutnya memberikan penjelasan atau pembahasan pokok-pokok tersebut. Dalam pembahasan dosen hendaknya memberi peluang atau sebanyak mungkin mengusahakan agar mahasiswa  terlibat secara mental, yaitu ikut berfikir dan berproses.
  3. Dosen harus segera mencari informasi tentang pemahaman mahasiswa akan hal yang baru saja dijelaskan. Umpan balik tersebut diperoleh antara lain dengan mengamati reaksi mahasiswa, mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh mahasiswatentang materi yang baru dijelaskan, memberikan kesempatan kepada mahasiswa mengajukan pertnyaan atau mengungkapkan kesulitannya. Pertanyaan-pertanyaan seperti : “jelas ?“, atau “ada pertanyaan?” yang diajukan dosen setelah menjelaskan sesuatu, adalah pertanyaan basa-basi yang tidak selalu ditanggapi oleh mahasiswa. Pertanyaan dosen dengan menunjuk permasalahannya, lebih memungkinkan timbul pertanyaan dari pihak mahasiswa. Misalnya : “Dari empat langkah perancangan  rangkaian logika yang baru saja kita pelajari, langkah mana yang paling sulit Anda pahami ?”, “apakah anda sudah menangkap hubungan antara langkah pertama dengan langkah kedua?”.
  4. Mengulangi secara sengkat pokok-pokok masalah yang baru saja diterangkan, untuk menunjukan bangunan pengetahuan.

5.  KETERAMPILAN MENGGUNAKAN MEDIA PERKULIAHAN

Media alat bantu untuk memperlancar proses penjelasan dan membantu untuk menarik perhatian mahasiswa. Media tersebut, antar lain OHP, hand-out,. Yang penting dari pemakaian media adalah penggunaanya harus tepat waktu, tepat materi, dan tepat tujuan. Akan dibahas tiga media yang sering dipakai, yaitu papan tulis, OHP, dan hand-out.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan papan tulis sebagai media perkuliahan :

  1. Papan tulis jangan digunakan untuk menuliskan segala macam hal, tetapi hanya untuk menyajikan hal-hal yang penting saja, seperti diagram, istilah-istilah penting yang selalu akan dipakai, table, penjabaran, suatu persamaan, langkah-langkah penyelesaian contoh soal, masalah pokok yang akan dibahas, dan rangkuman.
  2. Tulisan dipapan tulis harus disusun secara sistematis,sehingga membantu pemahaman mahasiswa. Susunan tulisan yang ruwet dan tidak teratur akan membingungkan mereka.
  3. Tulisan atau gambar yang terpampang di papan tulis harus dapat dilihat oleh semua mahasisaw. Dosen sekali-kali perlu mengeceknya dengan melihat dari jarak tertentu. Posisi berdiri dosen jangan menutupi tulisan atau gambar dipapan tulis.
  4. Selalu mulai dengan papan tulis yang bersih, kecuali memang ada sesuatu yang telah dipersiapkan.
  5. Bila suatu tulisan dan atau gambar perlu dihapus, sebaiknya dihapus seluruhnya, karena sisa tulisan dan atau gambar yang tak diperlukan dapat mengganggu perhatian.
  6. Gambar atau table yang pembuatannya dipapan tulis memrlukan waktu yang lama, sebaiknya disiapkan sebelum kuliah berlangsung, kecuali bila proses pembuatannya merupakan bagian dari penjelasan.

Dalam menggunakan OHP dan LCD, dosen perlu memperhatikan hal-hal berikut ini :

  1. OHP dan LCD  harus diletakkan pada posisi yang paling strategis, sehingga tampilan dilayar dapat dilihat dengan jelas oleh semua mahasiswa.
  2. Hal-hal yang akan ditampilkan dengan OHP dan LCD  harus sudah disiapkan sebelum kuliah berlangsung.
  3. Transparansi OHP atau pada slide pada LCD hanya diisi pokok-pokok yang penting saja, bukan salinan dari buku teks atau semua hal yang akan dikatakan dosen.
  4. Matikan OHP saat tidak dipakai agar lampu tidak cepat putus.

Hand-out adalah bahan tertulis yang berisi bahan-bahan pokok, diagram, ikhtisar, dan keterangan tambahan yang sangat diperlukan dalam proses perkuliahan tetapi yang belum tertulis pada buku teks atau diktat.  Sebagai suatu media perkuliahan, hand-out sangat membantu mahasiswa dalam memahami materi perkuliahan yang dibahas dosen pada saat kuliah berlangsung.  Hand-out dibagikan kepada mahasiswa sebelu perkuliahan dimulai.

6.  KETERAMPILAN MENGISI BAGIAN PENUTUP

Bagian penutup perkulihan jangan diisi dosen hanya dengan basa-basi, misalnya dengan mengatakan : “Karena waktunya sudah habis, maka kuliah diakhiri, dilanjutkan pada pertemuan akan dating “. Sebaiknya bagian penutup diisi dengan kegiatan yang lebih bermakna, seperti :

  1. Membuat rangkuman yang menunjukan kebulatan dari materi yang dipelajari beserta alur berfikirnya.
  2. Menekankan sekali lagi kapan, dimana, dan untuk apa materi yang sudah dipelajari dapat dipakai.
  3. Menunjukan bagian-bagian penting dari materi yang telah dipelajari.
  4. Menginformasikan hubunganantara materi yang sudah dipelajari dengan pokok bahasan berikutnya.

7.  KETERAMPILAN BERSIKAP DALAM PERKULIAHAN

Sikap meliputi penampilan dan sikap mental.  Penampilan dosen hendaknya penuh keyakinan, percaya diri dan bersemangat.  Penampilan semacam ini diharapkan dapat membuat mahasiswa menjadi bersemangat dalam mengikuti kegiatan perkuliahan.  Sikap mental adalah cara dosen menaggapi keberhasilan, kegagalan atau kesalahan mahasiswa.  Tanggapan dosen terhadap pertanyaan, kesalahan, atau komentar mahasiswa hendaknya tidak membuat mereka patah semangat, frustasi, atau rendah didi.  Berilah mereka tanggapan yang memberi semangat, menghargai, bahkan kalau perlu memuji.  Positive-thinking lebih berguna dari negative-thinking.

8.   KETERAMPILAN MENGATUR VARIASI GAYA BICARA

Dalam kuliah mimbar sebagian terbesar kegiatan berupa “ dosen berbicara atau menjelaskan”.  Keterampilan berbicara dengan baik sehingga mampu menarik dan memusatkan perhatian mahasiswa pada apa yang dijelaskan merupakan salah satu kunci keberhasilan. Keterampilan berbicara tersebut antara lain:

  1. Berbicara penuh semangat, energetic, dan tidak loyo.
  2. Berbicara dengan lafal yang jelas.
  3. Berbicara dengan variasi intonasi (keras-lemah suara). Bagian penting yang perlu mendapat tekanan, diucapkan keras, sedangkan bagian yang kurang pentingmisalnya pengantar, keterangan tambahan, diucapkan tidak terlalu keras.  Cara menjelaskan yang monoton dengan suara yang datar cepat menimbulkan kebosanan dan membuat pendengar mengantuk.
  4. Berbicara dengan variasi kecepatan.  Pembicaraan dengan kecepatan yang tetap dalam jangka waktu yang panjang, juga mudah menimbulkan kebosanan.  Perlu mengatur kecepatan, kapan harus berbicara cepat dan kapan harus berbicara lambat.

9. KETERAMPILAN MEMPEROLEH UMPAN BALIK

Dari umpan balik dapat diketahui apakah dosen telah menjelaskan materi dengan baik, serta apakah mahasiswa dapat mengikuti penjelasan, memahami materi, dan telah mencapai tujuan pembelajaran.  Bagi dosen umpan balik dapat iperlukan untuk memperbaiki cara memberi kuliah, sedangkan bagi mahasiswa berguna untuk memperbaiki cara belajar.

Cara-cara yang dapat ditempuh untuk memperoleh umpan balik, antara lain :

  1. mengamati sikap, wajah, dan perilaku mahasiswa.  Keadaan kelas yang selalu gaduh, wajah-wajah yang menunjukan kekecewaan, sikap tidak menghargai dosen, selalu banyak mahasiswa yang tidak mengikuti kuliah, mungkin mengindikasikan sesuatu.  Dosen berusaha mengetahui sebab-sebabnya dan berusaha menghilangkan sebab-sebab itu.
  2. Mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa secara teratur dan merata.  Pertanyaan dirumuskan dan diajukan dengan cara yang baik, pertanyaan tidak menimbulkan kesan marah atau menghukum.  Dosen harus menhhargai setiap jawaban yang diajukan mahasiswa, walaupun jawaban itu salah atau kurang benar.
  3. Menciptakan peluang dan memberi kesempatan seluas-luasnya pada mahasiswa untuk bertanya, dan menanggapi positif setiap pertanyaan yang muncul.  Apabila tak pernah ada mahasiswa yang bertanya, belum berarti penjelasan dosen telah dapat diikuti dengan baik, atau materi yang dijelaskan telah dikuasai; tetapi dapat sebaliknya, yaitu penjelasan tak dapat diikuti oleh mahasiswa, mereka tidak memahami tetapi tidak tahu apa yang harus ditanyakan, mahasiswa tak acuh dengan penjelasan dosen karena tidak menarik perhatian mereka, atau tidak ada yang berani bertanya.  Dapat dicoba agar pertanyaan mahasiswa diajukan secara tertulis.

10. KETERAMPILAN MEMBUAT VARIASI PENYAJIAN PERKULIAHAN.  

Variasi cara penyajian penting untukmengurangi kebosanan, menjaga tingkat perhatian, dan menimbulkan minat,.  Variasi itu, antara lain, dapat berupa pemberian tugas kepada mahasiswa untuk melakukan tugas secara individual atau secara berkelompok, menjelaskan satu gagasan dipapan tulis, menjelaskan kembali pokok-pokok yang sudah dijelaskan kepada teman-temannya atau kelompoknya, dan variasi-variasi lain yang dapat ditemukan oleh masing-masing dosen.  Dosen yang kreatif dapat menemukan lebih banyak variasi

Daftar Pustaka

  1. Atwi Suparman (1997). Desain Instruksional. Pusat Antar Universitas., DIKTI
  2. Ary Ginanjar Agustian (2002). Emotional Spritual Quotient (ESQ). Jakarta: Arga.
  3. Buku Kerja, (2000), Ancangan Aplikasi Peningkatan Proses Belajar Mengajar, APTIK
  4. Burton, L (1993). The Constructivist Classroom Education in Profile. Perth: Edith Cowan University.
  5. Buzan, Tony (1989). Use Both Sides of Yoru Brain, 3rd ed. New York: Penguin Books.
  6. Cord (2001). What is Contextual Learning. WWI Publishing Texas: Waco.
  7. De Porter, Bobbi (1992). Quantum Learning. New York: Dell Publishing.
  8. Ditdik SLTP (2002). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning, CTL). Jakarta.:Depdiknas.
  9. Erman, S.Ar., dkk. (2002). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA-FPMIPA.
  10. Fischer G , Palen L. Learner-centered design: beyond “gift -wrapping”. Center for Lifelong Learning & DesignUniversity of Colorado at Boulder 1999.
  11. Siswomihardjo  KW.  Kearifan  Guru  Besar  dalam  perspektif  normatif  dan aktualitasnya.  Focus  Group  Discussion:  Kearifan  Guru  besar,  Keteladanan / Budaya Panutan; Universitas Gadjah M ada, 29 Oktober 2004.
  12. Cook  J,  Cook  L.  How  technology  enhances  the quality  of  student -centered learning. Quality Progress 1998;31(7):59-63.
  13. Gardner, Howard (1985). Frame of Mind: The Theory of Multiple Ilntelligences. New York: Basic Bools.
  14. Goleman, Daniel (1995). Emotional Intelligence. New York: Bantam Books.
  15. Harsono, (2004),  Kearifan dalam transformasi pembelajaran: dari teacher-centered ke student-centered learning, Makalah Seminar Implementasi nilai kearifan  dalam  proses pembelajaran berorientasi student-centered learning UGM.
  16. Materi Pelatihan Kurikulum Berbasis Kompetensi, (2008), Model Pembelajaran, DIKTI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s