Pengembangan Potensi Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa Berbasis Inkubator Industri

Perguruan tinggi diharapkan bukan hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kompetesi tetapi juga jiwa kewirausahaan. Pada kenyataannya bahwa hanya sebagian kecil lulusan perguruan tinggi yang memiliki jiwa kewirausahaan tersebut. Disisi lain, tingkat pertumbuhan ekonomi berdampak pada tingkat pertumbuhan lapangan pekerjaan, tetapi pertumbuhan tersebut tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja. Dalam kondisi seperti ini, lulusan perguruan tinggi dituntut untuk tidak hanya mampu berperan sebagai pencari kerja tetapi juga harus mampu berperan sebagai pencipta kerja, keduanya memerlukan jiwa kewirausahaan. Oleh karena itu, berbagai inovasi pembelajaran di perlukan untuk dapat menghasilkan lulusan yang memiliki jiwa kewirausahaan.

Pada saat ini sebagian kecil lulusan PT yang telah memiliki jiwa kewirausahaan adalah mereka yang berasal dari keluarga pengusaha atau pedagang. Pada kenyataannya kewirausahaan adalah merupakan jiwa yang bisa dipelajari dan diajarkan. Seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan umumnya memiliki potensi menjadi pengusaha tetapi bukan jaminan menjadi pengusaha, dan pengusaha umumnya memiliki jiwa kewirausahaan. Jiwa kewirausahaan seseorang tercermin pada berbagai hal misalnya kemampuan kepemimpinan, kemandirian (termasuk di dalamnya adalah kegigihan), kerja sama dalam tim, kreatifitas, dan inovasi. Salah satu kemungkinan penyebab lemahnya jiwa kewirausahaan lulusan perguruan tinggi ini ditengarai oleh proses pembelajaran di perguruan tinggi yang masih terbatas pada teori semata dan belum secara terkondisi membangun jiwa kewirausahaan tersebut dalam kegiatan nyata industri dan dunia kerja. Penyebab lainnya adalah perkuliahan masih bertumpu pada cara pembelajaran Teacher Center yaitu dosen sebagai pusat kegiatan pembelajaran. Cara pembelajaran ini terbukti menghasilkan lulusan yang tingkat kemandiriannya rendah.

Industrial Incubator Based Learning (IIBL)

Proses pembelajaran berbasis inkubator industri (Industrial Incubator Based Learning=IIBL) menawarkan sebuah model pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan potensi jiwa kewirausahaan mahasiswa. IIBL dirancang sebagai usaha untuk mensinergikan teori (30%) dan praktek (70%) dari berbagai kompetensi bidang ilmu yang diperoleh dalam perkuliahan (tabel 1). Inkubator industri dan dunia kerja dijadikan sebagai pusat kegiatan pembelajaran dengan suasana atmosfir bisnis yang kondusif yang didukung dengan fasilitas laboratorium yang ada di PT. Mahasiswa dilibatkan secara langsung mulai dari proses perencanaan awal sampai prototype produk dan pembuatan business plan. Dosen berperan sebagai pembimbing selama proses pembelajaran IIBL berlangsung, sedangkan mahasiswa berperan sebagai obyek yang akan bangkitkan jiwa kewirausahaannya.

Tabel 1. Kegiatan, Tutor dan Partisipan

Kegiatan Persentase Tutor Partisipan
Perkuliahan, motivasi dan sharing pengalaman 30% Dosen – Praktisi Mahasiswa
Praktek di Inkubator Industri (Prototyping dan Business Plan) 70% Dosen – Praktisi Mahasiswa
Kompetisi prototype, Bussines Plan dan Feedback Dosen Mahasiswa

Proses pembelajaran ini mencoba membangkitkan jiwa kewirausahaan mahasiswa yang diekspresikan dalam 5 aspek yaitu Kepemimpinan, Kemandirian, Kerja sama dalam tim, Kreativitas dan Inovasi. Model program pembelajaran berbasis inkubator industri atau Industrial Incubator Based Learning (IIBL) ditunjukkan pada gambar 1.

iibl

Gambar 1. Model Pembelajaran IIBL

 

Tahapan Implementasi IIBL

Langkah-langkah implementasi IIBL ini adalah sebagai berikut:

  1. Langkah ke-1: Membagi peserta kuliah ke dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 mahasiswa. Setiap kelompok memilih salah satu anggota menjadi ketua kelompok (Team Leader).
  2. Langkah ke-2: Dosen memberikan perkuliahan tentang kewirausahaan.
  3. Langkah ke-3: Dosen tamu dan praktisi industri berbagi pengalaman bagaimana membangun usaha dan memberikan motivasi kepada mahasiswa.
  4. Langkah ke-4: mahasiswa diajak berkunjung ke laboratorium sendiri (banyaknya sesuai kebutuhan) dan ke industri lokal /dunia kerja  yang dipilih bersama mahasiswa.
  5. Langkah ke-5: Mahasiswa mulai masuk inkubator. Di inkubator ini, setiap kelompok mahasiswa dengan didampingi dosen mulai membuat prototype produk atau usaha yang dipilih berdasarkan kebutuhan pasar dan menyusun Bussines Plan.
  6. Langkah ke-6: Kompetisi prototype dan Bussines Plan di jurusan dan antar jurusan.
  7. Langkah ke-7: Pihak PT memberikan bantuan pemodalan untuk implementsi usaha, atau menawarkan prototype atau Bussines Plan pemilik modal.

  Daftar Pustaka

  1. Karl T. Ulrich, Steven D. Eppinger., Product Design and Development., Edisi Kedua, McGraw-Hill, 2000
  2. Sasmoko, Evaluasi Proses Pembelajaran Sebagai Kontrol Kualitas di Lembaga Pendidikan yang Otonom, Makalah Penelitian, 2001
  3. Tontowi, Aliq, Sriasih, Subagyo, Ramdhani, dan Aswandi., Pembelajaran Berbasis Inkubator Industri (Industrial Incubator Based Learning/IIBL) sebagai Model Pembelajaran untuk Mengembangkan Potensi Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa Klaster Teknologi Industri, Makalah Penelitian Universitas Gajah Mada, 2004
  4. Umar Husien., Studi Kelayakan Bisnis (Manajemen, Metode, dan Kasus), Gramedia Pustaka Utama, 1999
  5. Zainuddin M., Mengajar di Perguruan Tinggi, Buku ke-empat, Pusat  Antar Universitas untuk Peningkatan Dan Pengembangan Aktifitas Instruksional Dirjen DIKTI Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s